Langsung ke konten utama

Pantun Betawi

  • Humaniora
  • Kesenian






Yayasan Mekar Pribadi Gagas Penulisan Pantun Betawi untuk Pelestarian Budaya
Gagasan.id, Jakarta - YAYASAN Mekar Pribadi sebagai penggagas acara penulisan pantun Betawi patut mendapatkan acungan jempol. Pasalnya, jumlah penulis pantun Betawi saat ini semakin sedikit, bahkan dapat dihitung dengan jari.
Bekerjasama dengan Direktorat Kepercayaan dan Tradisi Kementerian dan Kebudayaan (Kemendikbud), Yayasan Mekar Pribadi berhasil menyelenggarakan kegiatan menulis pantun Betawi yang diikuti oleh siswa-siswi di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.
"Lokakarya menulis pantun Betawi dibuat untuk melestarikan nilai-nilai budaya Betawi sekaligus menanamkan semangat seni budaya pada generasi muda," tutur Pimpinan Yayasan Mekar Pribadi, Oetari Noor Permadi, Senin (4/12/2017).
Dalam acara tersebut, kata Oetari, pihaknya menghadirkan pemerhati budaya Betawi Heryus Saputro Samahudi, penyanyi legendaris Titiek Puspa serta pelukis Goesnoeg.
"Heryus Saputri bertugas memandu peserta untuk membuat pantun Betawi, sementara Goesnoeg akan membimbing peserta membuat ilustrasi untuk pantun mereka, kemudian Titiek Puspa berbagi pengalaman bagaimana mengemas seni untuk generasi muda," katanya.
Selain membuat pantun, ujar Oetari, para peserta dimanjakan tampilan beberapa budaya Betawi seperti Tari Sirih Kuning dan Palang Pintu hingga Rebana Gedigdug berbalas pantng dan silat oleh sanggar RPTRA Ulujami pimpinan Abdul Azis Blenatek.
Pemerhati budaya Betawi Heryus Sapoutro mengatakan, pantun merupakan bentuk puisi lama Indonesia, hampir disetiap suku dan wilayah di Indonesia mengenal pantun dengan sebutannya masing-masing.
"Ada yang menyebutnya gegurityan, ada yang menyebut parikan, dan banyak lagi, namun umumnya di wilayah budaya Melayu puisi ini disebut pantun," tuturnya.
Ia menambahkan, asal kata pantun adalah "panuntun" (bahasa Melayu) atau "tuntun" (bahasa Jawa Kuna) yang berarti mengatur dan menyusun, yakni mengatur dan menyusun kata-kata dengan aturan tertentu hingga enak didengar saat diucapkan.
"Awalnya pantun memang merupakan bagian dari tradisi sastra lisan Nusantara yang dipaparkan dan ditumbukan secara turun-temurun, sebelum kemudian diungkap secara tertulis dan tersurat," kata Heryus.
Heryus melanjutkan, orang Betawi biasa menggunakan pantun pada acara Palang Pintu, sebelum pengantin laki-laki masuk ke rumah pengantin perempuan maka akan ada adu pantun.
Penulis: 
Danang Prihandono





 Editor: 
Iskandar

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Beksi Dasar Hadji Godjali, latihan rutin silat beksi, Sabtu, 15 September 2018, lapangan Sawo Garden Ulujami

beksi dasar hadji godjali

beksi dasar hadji godjali