Langsung ke konten utama

Generasi Milenium Belajar seni 'pantun'

Seni & budaya

Generasi Milenium Belajar seni 'pantun'

Kantor berita meja berita - pos jakarta
Jakarta | Tue, December 5, 2017 



Pesan dalam sajak: dua pria melakukan pantun (puisi sajak empat baris) SAAT WORKSHOP DI TAMAN ISMAIL MARZUKI DI JAKARTA PUSAT PADA HARI SENIN. Workshop ini ditujukan untuk melestarikan pantun gaya betawi, yang menghadapi jumlah penggemar yang menurun. (JP / Rifky Dewandaru)

Ketika datang ke seni sajak, Indonesia memiliki pantun (bentuk tradisional prosa berulang), yang diyakini telah menjadi bagian dari tradisi lisan negara selama ratusan tahun.

Dalam Budaya Betawi Jakarta, pantun masih dipertahankan dalam peristiwa penting seperti pernikahan, yang melibatkan pertukaran pantun dalam sebuah upacara yang dikenal sebagai palang pintu (penghalang pintu).

Sayangnya, transformasi cepat jakarta menjadi sebuah ibukota metropolitan yang modern telah mendorong beberapa tradisi betawi ke titik menghilang, terutama di kalangan generasi muda.

Dalam upaya untuk menghidupkan kembali seni pantun di kalangan generasi milenium jakarta, mekar pribadi, sebuah yayasan yang berfokus pada budaya dan pendidikan, bergabung dengan Direktorat Pendidikan Dan Kebudayaan Kementerian Agama dan tradisi, dan Direktorat Jenderal Budaya untuk tahap satu. - hari pantun workshop hari senin di Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat.

Salah satu peserta, nadia, 18, ditunjuk oleh kelompoknya untuk membaca pantun mereka di depan 75 siswa sma dan universitas. Bukannya panik, dia terkejut betapa dia menikmati tugas itu.

" itu menyenangkan. Saya bisa membaca versi modern saya sendiri dari pantun betawi, meskipun saya awalnya gugup untuk melakukannya di depan penonton," kata nadia, seorang mahasiswa hubungan internasional di Universitas Kristen Indonesia (UKI).

Selama Workshop, peserta dibagi menjadi kelompok kecil dan ditantang untuk membuat pantun sebelum membacanya.

Setelah itu, masing - masing diberikan sebuah buku untuk menulis ulang semua pantun yang telah dibuat di acara tersebut, yang juga dihadiri oleh ilustrator goes noeg dan penyanyi legendaris Titiek Puspa.

" selain belajar menulis dan membaca pantun, para siswa juga belajar menggambar ilustrasi dari goes noeg," kata mekar pribadi kepsek oetari Noor Permadi. " kami ingin para siswa melestarikan budaya tradisional, dan dengan melakukannya, menjembatani kesenjangan antara generasi yang lebih tua dan muda."

Ia menekankan pentingnya pemuda indonesia yang mampu mengidentifikasi dan melestarikan warisan mereka.

" sebuah budaya dapat bertahan jika rakyatnya - terutama generasi muda - memiliki kesukaan untuk itu. Dengan Workshop ini, kami berharap untuk membawa pemuda-pemuda ini lebih dekat dengan pantun betawi," dia menambahkan.

Pantun Tradisional Betawi adalah sebuah puisi yang terdiri dari sebuah puisi, atau empat baris sajak bolak - balik. Dua baris pertama tampaknya tidak berhubungan dengan pernyataan yang kemudian masuk akal oleh dua baris terakhir, yang biasanya berisi pesan atau pelajaran.

" dibandingkan dengan pantun tradisional dari bagian lain Indonesia, yang menggunakan dialek jakarta yang berbeda," kata pengamat budaya betawi heryus saputro samhudi.

" salah satu contoh dapat ditemukan dalam penggunaan kata ngapa [mengapa], daripada formal indonesia mengapa."

Pantun can be categorized into pantun anak for children, pantun cinta to declare one’s love, the customary pantun adat, the religious pantun agama, pantun nasihat to offer advice and the humorous pantun jenaka. 

One pantun adat reads:

Burung jawi burung puter (A Jawi bird is a bird that twirls)

Anak ayam disamber elang (A chick is eaten by an eagle)

Anak Betawi kudu pinter (A Betawi child must be clever)

Biar kampungnya kagak ilang (So that he won’t lose his village)

Dua baris pertama adalah pernyataan terputus, tetapi garis tiga dan empat memperingatkan anak - anak betawi tidak melupakan warisan mereka.

Pesan tersebut mencerminkan situasi saat ini dari orang betawi, yang telah menjadi minoritas di ibukota karena aliran migran yang terus menerus dari bagian lain dari negara tersebut. (sfr)

Tag: Betawi, seni dan budaya, tradisi, generasi milenium

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Beksi Dasar Hadji Godjali, latihan rutin silat beksi, Sabtu, 15 September 2018, lapangan Sawo Garden Ulujami

beksi dasar hadji godjali

beksi dasar hadji godjali