BINCANG BUDAYA BERSAMA
SENIMAN, BIROKRAT, DAN
MASYARAKAT PETUKANGAN
Ditulis oleh : redaksi
bidikfakta pada Minggu, 30 September 2018
bidikfakta.com,Jakarta
Silaturahmi Budaya, bincang bincang bersama
pelaku seni budaya, tokoh masyarakat, tokoh agama, pemuda, pemerintah dan
masyarakat sekitar yang cinta terhadap budayanya. Pada hari Sabtu 29 September 2018 bertempat di
Sasana Krida Karang Taruna (SKKT) Kel. Petukangan Selatan, Kec. Pesanggrahan,
Kota Adm Jakarta Selatan. Kegiatan ini juga turut memeriahkan Hari Puisi
Indonesia sekaligus penutupan pengiriman naskah puisi antologi "Kutulis
Namamu Di Batu" dan persiapan penerbitannya oleh komunitas Sastra Alinea
Baru. Diselingi oleh performing sastra lisan "Rebana Gedigdug", Silat
Beksi, Baca Puisi, Blantek, Pantun, dan lainnya.
Turut hadir Putra Gara (Novelis), Nanang R
Supriyatin (Penyair-Birokrat), Nasir Mupid (Seniman Betawi), Yahya Andi Saputra
(Budayawan Betawi), Ireng Halimun (Pelukis), Rik A Sakri (Tokoh Teater), Dasik
Aripin (Guru Besar Silat Beksi Dasar Hadji Godjali), Prasetyohadi Prayitno
(Wartawan Senior), Abdul Aziz (Pemerhati "kesejarahan" Betawi), Rd
Nanoe Anka (Penyair), Ibu Ayu (Koreo Tari), Cecep Sudrajat (Sketsa Betawi),
serta pelaku seni dan masyarakat lainnya.
Bukan
Menara Gading
Menurut Ahmad Setyo Bae, penggagas kegiatan
Silaturahmi Budaya bahwa Bung Didi juga kenal saya, kenal Aziz dan semua
kawan-kawan Komunitas Seni Pesanggrahan. Saya pun mengundang teman-teman dari
Komunitas Sastra Alinea Baru dan teman-teman senior seperti Abang Yahya, Mas
Prasetyohadi, Mas Nanoe, Mas Ireng, Mas Eddy Pram, Mas Gara, Mas Nanang, Mbak
Novi.
"Dan hari H itu akhirnya kawan-kawan
komunitas saya bertemu dan bersilaturahmi dengan Komunitas Pesanggrahan,
Sanggar Topeng Blantek Fajar Ibnu Sena yang notabene berisi para
"dedengkot" Seniman Betawi," ungkapnya.
"Mas Tyo, kalo tadi saya ngliat temen temen
pada tampil, saya mengingatkan dulu saat di Bulungan juga kami pernah tampil
bareng. Jadi reuni kita," ujar bang Nasir Mupid sembari tertawa lebar.
Memang yang hadir saat itu para alumni
Gelanggang Remaja Jakarta Selatan (GRJS) Bulungan yang kini sudah memilih peran
berkeseniannya sendiri. Seperti Bang Nasir misalnya, meski dulu
berteater dan juga nulis puisi, mulai tahun 90 an sudah menekuni dunia seni
Topeng Blantek.
"Dialah kini satu satunya yang masih ada sebagai
pelaku, pemimpin Sanggar Topeng Blantek setelah sebelumnya ada Acep Subarkah
(Ras Barkah) "raja blantek" yang sudah almarhum," terangnya.
Diawal pembukaan acara tersebut tampil para
pesilat Beksi dari Sanggar Silat Beksi Dasar Hadji Godjali dibawah asuhan Kong
Dasik Aripin yang Insya Allah akan berangkat ke Jogja. Mereka menampilkan
jurus-jurus andalan "Silat Beksi" yang menonjolkan kekuatan siku
tangan. Saya pun di dapuk oleh Bung Abdul Aziz untuk
memaparkan apa tujuan acara ini. Dan saya katakan dengan gamblang kalo acara
ini adalah kegiatan yang bukan di "menara gading.
Artinya, selama ini diskusi kecil apalagi acara
besar selalu dilakukan di pusat-pusat kesenian yang penontonnya juga orangnya
pelaku seni itu sendiri. Sedang disini, para penyair yang kesohor bisa
dinikmati performnya oleh masyarakat yang tak berlatar belakang penyair
atau pecinta sastra. Mereka warga biasa yang kebetulan cinta budaya
lokalnya.
"Kalo melihat ini, sepertinya harus ada
pettemuan berikutnya nih Pak Tyo," kata Bung Abdul Aziz. Aku bilang siap! (Jangan
dikira penyair atau penulis tak mau tampil di kampung-kampung)
(Eva Andryani)

Komentar
Posting Komentar